suatu ketika temanku yang bernama
Werr berfilsafat, filsafat itu berbunyi:
"dilarang mencintai dalam satu baris"
hmm.. sebuah filsafat yang aneh (tapi perasan semua filsafat aneh deh). arti filsafat di atas aku ngga tau pasti. tapi aku memperhatikan disini ada 3 komponen yang penting. yaitu kata2
dilarang,
mencintai, dan
satu baris. kata
dilarang jelas menunjuk pada sebuah ancaman. sesuatu yang tidak boleh dilakukan yang merujuk pada kata
mencintai dengan ruang lingkup
satu baris. terus.. ada apa dengan
satu baris???
satu baris yang mana yang dimaksud? i don't know...
mencintai adalah sebuah rasa yang datang dari hati. kedatangannya terkadang tidak disengaja, dan kadang tidak diinginkan. namun mencintai sesuatu/seseorang menyimpan makna harapan dan kepercayaan. sesuatu yang sangat dalam dan personal dan setiap individu mungkin merasakannya dengan cara dan tingkatan yang berbeda. yang terkadang membawa senyum dan tawa. jika hal tersebut dilarang, akankah dunia ini tetap terseyum??? jika mendatangkan kebahagiaan, mengapa harus dilarang??? mari kita tanyakan kepada si
Werr, semoga kita mendapatkan jawabannya...
menurut si
Werr - disini dia sebagai pencipta filsafat di atas - dia mengatakan klo dalam sebuah perang terdapat prajurit pria dan wanita. di dalam keprajuritan tentu sudah wajib a'in adanya baris berbaris. nah... suatu ketika ada seorang komandan yang menghimbau kepada anak buahnya agar tidak saling jatuh cinta dalam satu barisan. mungkin agar para prajurit lebih konsentrasi. dan mungkin karena cinta di dalam perang hanya akan membawa kepedihan. yah... kita semua tau, taruhan perang adalah nyawa. dan tentu sang komandan ngga kepingin anak buahnya turun mental gara2 patah hati karena kekasihnya gugur di ranjang... eh, medan laga maksudnya!
dan asal tau aja, mas
Werr mengatakan filsafat tersebut di atas dalam kondisi tidur! pagi itu mas werr mengigau, dan aku adalah saksi dari gigauannya itu. semua cerita tentang prajurut di atas muncul di mimpinya. huff... semoga saja tidak ada lagi cinta yang terlarang seperti filsafat si
Werr di atas...